Lompat ke isi utama

Berita

Nasrun, Mengajak Pemilih Pemula Untuk Menolak Politik Uang dan Politisasi SARA

Nasrun, Mengajak Pemilih Pemula Untuk Menolak Politik Uang dan Politisasi SARA
\n

Pekat, Bawaslu Kabupaaten Dompu - Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Pekat bersama dengan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Pekat berkolaborasi menyelenggarakan acara sosialisasi pemilu di SMAN 1 Pekat. Acara yang diberi nama Goes To School: Pemilu Sarana Integrasi Bangsa" ini bertujuan untuk mengedukasi pemilih pemula mengenai pentingnya berpartisipasi dalam pemilu.

\n\n\n\n

Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pemahaman terhadap Pemilih pemula, yang merupakan warga negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah/pernah menikah, memiliki hak memilih dalam pemilu dan sebelumnya belum termasuk pemilih karena ketentuan Undang-Undang.

\n\n\n\n

Pada kesempatan ini Anggota Panwaslu Kecamatan Nasrun, menyampaikan materi terkait dengan pentingnya partisipasi pemilih pemula dalam menolak politik uang dan politisasi sara.

\n\n\n\n

Nasrun, menjelaskan kenapa politik uang harus ditolak karena merupakan pelanggaran pidana dalam Pemilu, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu, dengan sanksi pidana 3-4 tahun kurungan dan denda sebesar Rp 36-48 juta.

\n\n\n\n

"Selain sanksi pidana, politik uang juga berdampak pada menurunnya kualitas pemilu dan dapat mengakibatkan terpilihnya pemimpin yang tidak amanah dan kurang berintegritas," jelas pria kelahiran lombok

\n\n\n\n

Di sisi lain, politisasi SARA sangat berdampak pada kesatuan dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, Ia mengajak siswa-siswi SMAN 1 Pekat untuk ikut mengkampanyekan penolakan terhadap politik uang dan politisasi SARA, serta menghindari penyebaran hoaks di media sosial.

\n\n\n\n

Karena Politik identitas yang menggunakan isi Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) dalam pemilihan umum adalah tindakan yang merusak dan membahayakan fondasi demokrasi negara. "Politisasi SARA dapat mengancam stabilitas dan menyebarkan perpecahan di tengah masyaraka," ungkapnya

\n\n\n\n

"Dia menegaskan bahwa politisasi SARA, adalalah praktik yang harus ditolak secara tegas oleh adik-adik. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama dalam membangun negara yang adil, inklusif, dan bermartabat," tegasnya

\n\n\n\n

Dalam Pemilu 2024, generasi Z diharapkan akan aktif berpartisipasi dalam memilih pemimpin yang bebas dari politik uang dan politisasi SARA, demi mewujudkan Indonesia Emas 2024. mari sama-sama kita jaga integritas pemilu dan membangun Indonesia yang lebih baik.

\n\n\n\n

Penulis: Panwaslu Kecamatan Pekat

\n\n\n\n

Editor: Farid

\n\n\n\n\n"